Personal Journal - Random Bookish - Minimalist Lifestyle
Tetes Diorama Terakhir (Litera.co.id, 5 Juni 2017)
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Cerpen saya berjudul Tetes Diorama Terakhir dimuat di Litera.co.id, majalah online yang memuat berita dan tulisan sastra kontemporer. Cek tulisan selengkapnya di sini.
Apakah kamu penyuka traveling ke alam bebas? Senang melebur dengan alam dan merasakan denyut nadi kehidupan asri, belum terjamah polusi? Maka boleh jadi Curug Malela menjadi pilihan yang tepat buat dikunjungi. Lokasinya di di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur di barat laut Bandung. GPS menunjukkan posisi koordinat S07*00’38.1″ E107*12’22.0″ di atas batu tempat memandang keindahan curug itu. Bagiku sendiri yang merupakan orang Gununghalu, berjarak 20KM dari lokasi, adalah mimpi untuk bisa mengunjungi niagara mini ini, pesona keindahannya sering kujumpai di situs-situs para traveler yang rata-rata dari luar Bandung. How come! Aku sendiri yang deket kesana belum pernah, tapi akhirnya bisa terlaksana juga pada tanggal 20 Agustus 2012 sehari setelah lebaran kemaren, bersama tiga orang teman semasa putih biru yaitu Rhadi, Rena dan Ahsai kami mengunjungi tempat ini. Hei, ternyata diantara kami cuman ...
Sebenarnya, saya memiliki buku ini sudah sejak lama. Waktu itu saya mengikuti sebuah acara kepenulisan dan dapet oleh-oleh 50 buah buku. Isinya buku-buku nonfiksi, sebagian besarnya buku agama dan how to. Buku-buku itu banyak yang masih disegel karena belum sempat dibaca. Kalau ada teman yang bertandang ke kosan dan tertarik dengan salah satu dari buku-buku itu, selalu saya biarkan dia membawanya pulang daripada saya numpuk buku dan nggak dibaca. Semalam, saat berbincang random dengan seorang teman, sampailah kami pada pembahasan tentang kesehatan, diet dan olahraga. Saya teringat ada satu buku yang membahas tentang diet berdasarkan golongan darah. Dan kerennya, pas banget ngebahas diet untuk golongan darah saya, yaitu B. Karena lumayan tipis, saya pun menyelesaikannya dalam waktu singkat.
Sedikit berbeda dari postingan saya biasanya, kali ini saya ingin berbagi seputar komentar di blog spot . Kebetulan beberapa hari yang lalu saya kesal karena beberapa bulan terakhir (iya beberapa bulan terakhir dan baru kesel kemarin) saya tidak bisa membalas komentar di blog, tidak ada moderasi dan pemberitahua n ketika ada komentar. Setelah saya bertanya sana-sini disertai googling, saya akhirnya menyimpulkan bahwa blogspot memiliki dua fitur standar untuk komentar seperti halnya ada dua fitur untuk profil. Yaitu komentar bawaan blogspot dan komentar dengan menggunakan google+. Sebenarnya ada juga komentar yang langsung ngelink ke facebook dan fitur komentar lain misalnya Disqus . Tetapi saya hanya akan membahas dua hal yang selama ini sempat saya coba, yaitu komentar bawaan dan google+. Lucunya, beberapa bulan terakhir, untuk profil blog ini, saya memakai profil bawaan blogspot tetapi untuk komentar menggunakan komentar google+. Saya sadarnya baru-baru ini sih. Soalnya...
Baru nyobain pakai clodi (cloth diapers/popok kain) saat anak udah 8 bulan lewat sih emang agak telat ya. Semuanya gara-gara liat tumpukan sampah popok sekali pakai (pospak) di belakang rumah. 8 bulan aja sudah sebanyak ini, apalagi full sampai toilet training yang entah kapan mau dimulainya. Sebenernya keinginan pakai clodi udah ada sejak anak baru lahir. Tapi waktu itu cuman kepikiran repot dan malas nyuci clodinya. Sayangnya saat itu nggak mengedukasi diri sendiri dengan kekurangan/kelebihan pakai clodi atau pospak. Nyeselnya sekarang... Makanya kalau dikasih amanah anak selanjutnya, insyaAllah pengen pakai clodi dari newborn. Karena ternyata pakai clodi tentunya nggak sesimpel pakai pospak tapi banyaaaak banget kelebihannya terutama untuk lingkungan dan isi dompet. Jadi, di belakang rumah neneknya suami itu ada lubang sampah. Katanya dulu zaman cucunya masih bayi, bekas pospak suka dibuangin ke sana. Nah, sekarang anaknya udah pada remaja, itu sampah nggak ...
Sejak sekitar dua tahun yang lalu, hardisk laptop saya penuh dengan video-video para Youtuber, terutama Booktuber. Booktuber ini bisa dikatakan istilah buat nyebut orang-orang yang ngomongin buku di Youtube. Awalnya saya mencari video tentang Nanowrimo atau National Novel Writing Month (sekitar tahun 2013 saya pernah ikutan Nanowrimo dan tembus 50.000 kata, novelnya belum tersentuh sampai sekarang, OOT). Selama ngikutin Nanowrimo, kerjaan saya hanya berkutat pada kegiatan menulis, riset dan nontonin video tentang menulis. Itulah kali pertama saya nemu channel Katytastic. Setelah itu bisa dibilang saya ngaddict Youtube. Rasanya aneh kalo dalam seminggu nggak buka Youtube. Yang saya ikuti sebenarnya hanya booktuber dan video cover, baru kesini-sininya saya banyak subscribe Foodtuber, terutama yang membahas seputar Korea seperti Cory & Merie .
Dalam salah satu rapat karyawan di tempat saya bekerja, kami sempat berbincang tentang passion dan motivasi bekerja. Menggali faktor “why” ketika memilih sebuah pekerjaan. Muncullah bahasan bahwa dalam menentukan passion, kita harus memutuskan manakah hal yang memang benar-benar menjadi passion kita dan manakah hal yang mudah dilakukan. Jika saya berkaca pada diri sendiri, saya selalu yakin bahwa menulis adalah jalan hidup saya. Tetapi, setiap kali ditanya mau fokus di mana, saya masik suka bingung. Saat ini, setidaknya ada tiga hal yang masih saya jalani:
Comments
Post a Comment