Personal Journal - Random Bookish - Minimalist Lifestyle
Tetes Diorama Terakhir (Litera.co.id, 5 Juni 2017)
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Cerpen saya berjudul Tetes Diorama Terakhir dimuat di Litera.co.id, majalah online yang memuat berita dan tulisan sastra kontemporer. Cek tulisan selengkapnya di sini.
Sebenarnya, saya memiliki buku ini sudah sejak lama. Waktu itu saya mengikuti sebuah acara kepenulisan dan dapet oleh-oleh 50 buah buku. Isinya buku-buku nonfiksi, sebagian besarnya buku agama dan how to. Buku-buku itu banyak yang masih disegel karena belum sempat dibaca. Kalau ada teman yang bertandang ke kosan dan tertarik dengan salah satu dari buku-buku itu, selalu saya biarkan dia membawanya pulang daripada saya numpuk buku dan nggak dibaca. Semalam, saat berbincang random dengan seorang teman, sampailah kami pada pembahasan tentang kesehatan, diet dan olahraga. Saya teringat ada satu buku yang membahas tentang diet berdasarkan golongan darah. Dan kerennya, pas banget ngebahas diet untuk golongan darah saya, yaitu B. Karena lumayan tipis, saya pun menyelesaikannya dalam waktu singkat.
When we translate an experience into language we essentially make the experience graspable. ( Dr. James Pennebaker ) Kebiasaan saya menulis buku harian dimulai sejak SMP. Awalnya karena saya melihat teman-teman sepermainan pada punya diary, waktu itu saya menyebutnya diare XD Entah kenapa, saya tergila-gila dengan benda ini. Saya senang mengoleksinya terutama kalau gambarnya lucu-lucu. Saat itu saya mengisinya hanya sekadar untuk corat-coret nggak jelas, kadang menulis lirik lagu, quotes bahkan nama gebetan haha Semakin bertambahnya usia, saya masih terus merawat kebiasaan yang satu ini. Bedanya saya tidak lagi memilih buku yang lucu. Saya justru lebih senang menulis di buku yang biasa saja, kalau bisa malah kertas polos tanpa garis apapun. Lebih bagus lagi jika buku itu dibuat dari kertas yang sudah tidak terpakai kemudian saya bundel sendiri. Rasanya saya bisa menuangkan gagasan atau curhatan tanpa beban. Saat berbenah rumah, saya menemukan buku harian at...
Gambar diambil dari sini . "Blogging is not about publishing as much as you can. It's about publishing as smart as you can." (Jon Morrow) Membuka dashboard blog dan goodreads adalah kebiasaan yang lebih sering saya lakukan ketimbang membuka facebook atau twitter . Akhir-akhir ini malah lebih sering lagi bolak-balik membuka blog ini sambil mikir mau dibawa ke mana hubungan kita blog ini? Mau diisi apa? Sebab beberapa bulan terakhir, postingan di blog menurun. Barangkali ini pengaruh godaan pertengahan tahun yang pernah saya bahas sebelumnya. Jadi saya harus menata ulang konten blog dan yang lebih penting mempertanyakan ulang tujuan dibuatnya blog ini. Saat pertama kali membuat blog ini tahun 2009, tak sempat terlintas mengenai tujuan pembuatan akun blog ini. Sama halnya ketika membuat akun facebook , twitter dan sejenisnya, saya tidak bertanya untuk apa saya membuat akun-akun itu, selain karena penasaran dan biar kekinian. Barangkali memang tidak ...
Saya sering mendengar jenis rumah bergaya minimalis, tetapi gaya hidup minimalis baru saya dengar saat menonton video Ariel Bissett, salah satu booktuber favorit saya yang berbincang te n tang minimalist book lover . Akhirnya saya penasaran dan menemukan channel youtube Jenny Mustard yang banyak membahas tentang gaya hidup minimalis. Sebenarnya, tidak ada penjelasan baku mengenai minimalist lifestyle. Tapi dari beberapa video yang saya tonton, saya menyimpulkan bahwa minimalist lifestyle adalah salah satu pola hidup yang membuat seseorang membatasi diri untuk membeli, memiliki atau mengonsumsi banyak hal. Terutama hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tujuannya, bisa hidup lebih sehat dan bahagia. Intinya, kalau gaya hidup maksimalis (lawan minimalis) bisa membuatmu lebih bahagia ya tidak apa-apa.
Rumah panggung berdinding anyaman bambu dan berkusen kayu dicat coklat tua berdiri di atas sebuah tanah luas dengan berbagai tanaman di halaman depannya adalah rumah yang ditunjukan oleh pemilik warung di pinggir jalan yang tadi kulewati sebagai rumah milik pak Arif, ayah dari seorang gadis yang kucari keberadaanya sebulan terakhir. “ Puunteen... ” [1] Teriaku, ketika sampai di halaman rumah, tepat di depan pintu yang menghadap ke arah matahari terbit itu. Melihat tidak adanya tanda-tanda pintu itu akan terbuka dengan kedatangan sang pemilik rumah, aku mengulanginya beberapa kali. Jawabannya hanya sepi. Beruntung tak lama setelah itu, dari belakangku muncul seorang ibu dengan pakaian terciprat lumpur disana sini, kaki telanjang dan bertopi kerucut menghampiriku dengan wajah penuh tanda tanya. “ Milarian saha jang? ” [2] ujarnya seraya mendekati posisi aku berdiri. “Betul ini rumahnya Pak Arif? Saya teman kantornya Riri.” Sesaat kutangkap dari raut wajahnya, wanita it...
You don't need to read more books, all you need is to be more wise. Damn, kenapa saya harus menemukan kalimat ini dalam salah satu video motivasi Revolution Hive ? Satu kalimat ini yang pada akhirnya sedikit banyak mengubah pola pikir saya tentang membaca. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjadi predator buku (bukan hanya kutu buku tapi predator). Saya mendedikasikan sebagian besar waktu saya untuk membaca buku, saya membaca buku di mana saja. Di perpustakaan, di atas tempat tidur, di toko buku hingga di dalam angkutan umum. Saya membaca semua genre buku yang bisa saya temukan. Sampai akhirnya seseorang pernah berkata bahwa semakin banyak kita membaca, semakin sulit kita terhibur dengan bacaan. Saya mafhum dan sepakat. Karena saya yakin, semakin banyak saya membaca, bacaan saya semakin bertumbuh.
Comments
Post a Comment