Personal Journal - Random Bookish - Minimalist Lifestyle
Tetes Diorama Terakhir (Litera.co.id, 5 Juni 2017)
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Cerpen saya berjudul Tetes Diorama Terakhir dimuat di Litera.co.id, majalah online yang memuat berita dan tulisan sastra kontemporer. Cek tulisan selengkapnya di sini.
Pagi ini, sesaat sebelum membuat tulisan ini, saya menghabiskan quota internet midnight dengan menonton vlogs beberapa Booktuber di Youtube. Hal yang saya tonton memang tidak ada hubungannya dengan apa yang kemudian muncul di kepala saya. Booktuber itu membahas buku yang baru mereka dapatkan, membuat review buku dan vlogs kegiatan sehari-hari yang banyaknya haha hihi depan kamera. Tapi anehnya, saya selalu membuka kembali Youtube dan menonton video mereka yang kadang serius kadang konyol. Kadang berbobot kadang cuman gitu doang. Sekalipun begitu, saya selalu suka dan kembali membuka Youtube untuk menonton mereka bahkan saya download dan memenuhi hardisk laptop. Oya, ada satu Booktuber yang videonya sering muncul, yaitu Jesse The Reader. Ini salah satu Booktuber yang pernah saya sebut sebagai Top 5 Booktuber di tulisan sebelumnya. Ternyata dia memposting tiga video setiap minggunya. Hal yang kemudian menimbulkan letupan kecil di kepala saya. Mereka memang memposting hal keren a...
You don't need to read more books, all you need is to be more wise. Damn, kenapa saya harus menemukan kalimat ini dalam salah satu video motivasi Revolution Hive ? Satu kalimat ini yang pada akhirnya sedikit banyak mengubah pola pikir saya tentang membaca. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjadi predator buku (bukan hanya kutu buku tapi predator). Saya mendedikasikan sebagian besar waktu saya untuk membaca buku, saya membaca buku di mana saja. Di perpustakaan, di atas tempat tidur, di toko buku hingga di dalam angkutan umum. Saya membaca semua genre buku yang bisa saya temukan. Sampai akhirnya seseorang pernah berkata bahwa semakin banyak kita membaca, semakin sulit kita terhibur dengan bacaan. Saya mafhum dan sepakat. Karena saya yakin, semakin banyak saya membaca, bacaan saya semakin bertumbuh.
Identitas Buku Judul: Bulan Merah Penulis: Gin Teguh Penerbit: Qanita (Mizan Group) Tahun Terbit: 2014 Jumlah halaman: 256 Halaman Novel ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang berjuang untuk kemerdekaan lewat musik keroncong. Pertunjukan yang mereka lakukan bukanlah pertunjukan biasa karena selalu digelar tiba-tiba, pertunjukkan selalu disisipi lagu yang liriknya tak dikenal orang. Sebab sebenarnya ada lirik-lirik berisi pesan rahasia yang ingin disampaikan kepada para penerima. Pesan-pesan rahasia itu kemudian akan berbalas dengan pesan-pesan rahasia lainnya. Semua terjadi begitu cepatnya. Harus cepat, sebelum patroli kolonial Belanda datang dan membubarkan pertunjukan.
Gambar diambil dari sini . "Blogging is not about publishing as much as you can. It's about publishing as smart as you can." (Jon Morrow) Membuka dashboard blog dan goodreads adalah kebiasaan yang lebih sering saya lakukan ketimbang membuka facebook atau twitter . Akhir-akhir ini malah lebih sering lagi bolak-balik membuka blog ini sambil mikir mau dibawa ke mana hubungan kita blog ini? Mau diisi apa? Sebab beberapa bulan terakhir, postingan di blog menurun. Barangkali ini pengaruh godaan pertengahan tahun yang pernah saya bahas sebelumnya. Jadi saya harus menata ulang konten blog dan yang lebih penting mempertanyakan ulang tujuan dibuatnya blog ini. Saat pertama kali membuat blog ini tahun 2009, tak sempat terlintas mengenai tujuan pembuatan akun blog ini. Sama halnya ketika membuat akun facebook , twitter dan sejenisnya, saya tidak bertanya untuk apa saya membuat akun-akun itu, selain karena penasaran dan biar kekinian. Barangkali memang tidak ...
(Menemukan tulisan lama yang isinya sok-sokan ini di blog BEM FEB UNSOED. Diposting tanggal 6 September 2013 :D Sebagian isinya telah saya edit, versi asli cek di sini .) *** “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” [Arai] Yups, tidak semua mimpi datang saat tidur. Mimpi juga datang ketika terjaga. Kenapa butuh keberanian untuk bermimpi? Karena ternyata banyak orang di luaran sana takut bermimpi yang tinggi, karena tidak percaya diri lah, pesimis lah, atau takut diledek sebagai pemimpi. Lha emang Weight bersaudara tidak bermimpi dulu sebelum menerbangkan manusia? Begitu juga Edmun Hillary yang menaklukan Mount Everest. Atau Daniel Mahendra yang berhasil mengunjungi Tibet dalam bukunya Perjalanan ke Atap Dunia . Mereka itu para pemimpi! Lagian mimpi itu gratis kok. Tinggal kita berani atau tidak untuk menetapkan impian kita. Jika sudah terlintas maka tuliskanlah atau ungkapkan pada orang lain. Paulo Coelho bilang, when you want something, all the univ...
" We don’t stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing. " –George Bernard Shaw Apa sih yang kebayang ketika mendengar kata “mewarnai”? Kerjaan anak TK atau SD? Memang benar sih, mewarnai adalah salah satu aktivitas menyenangkan yang dilakukan pada masa kecil. Tetapi, saat ini mewarnai juga aktivitas milik orang dewasa. Main-main deh ke toko buku, udah banyak banget buku coloring for adults dan laris banget. Pertama kali saya penasaran dengan dunia coloring itu saat melihat salah satu adegan dalam drama korea Producer, IU mewarnai sambil menunggu telpon. Saya kaget. Eh kok ada buku mewarnai gitu? Setelahnya, karena saya juga jualan buku, sempet ada promo coloring book for adults . Saat itu cuman kepikiran buat jualan aja, belum tertarik beli. Sampai akhirnya disodorin coloring book My Own World lah sama temen. Karena bukunya udah ada, jadi mau nggak mau harus nyari ala...
Comments
Post a Comment