Personal Journal - Random Bookish - Minimalist Lifestyle
Tetes Diorama Terakhir (Litera.co.id, 5 Juni 2017)
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Cerpen saya berjudul Tetes Diorama Terakhir dimuat di Litera.co.id, majalah online yang memuat berita dan tulisan sastra kontemporer. Cek tulisan selengkapnya di sini.
“ Creativity without discipline will struggle, creativity with discipline will succeed. ” ― Amit Kalantri, Wealth of Words Membuat postingan di blog, terlebih membuat postingan yang bagus, bukanlah perkara mudah. Seorang blogger harus bisa menangkap ide lalu menuangkannya ke dalam bentuk tulisan yang menarik. Tak selesai sampai di sana, sebelum di-posting, tulisan harus melewati proses editing, khawatir ada typo atau ada informasi yang keliru. Seorang blogger juga harus mencari gambar yang pas dengan isi tulisan. Dan yang lebih sulit dari itu semua adalah mengupayakan agar bisa konsisten ngeblog. Setidaknya itulah yang saya rasakan sependek pengalaman saya sebagai blogger. Dari segala tantangan yang dihadapi tentu ada banyak upaya yang bisa kita lakukan agar bisa terus konsisten ngeblog. Dan inilah 5 hal yang selalu saya coba agar bisa terus ngeblog: 1. Bergabung dalam Komunitas Blogger Ada banyak komunitas blogger yang bisa ditemukan ...
Adalah mengisi tinta printer, hal yang sebenarnya sederhana saja, tinggal keluarkan katrid dari printer kemudian suntikan refill tinta sesuai dengan petunjuk pemakaian di belakang kemasan refill tinta tersebut. Masalah tinta yang luber hingga mengotori tangan (seperti terlihat di gambar) selama beberapa hari bisa jadi ini sudah menjadi makanan sehari2. Tetapi apa jadinya jika mengisi tinta itu dilakukan tengah malam menjelang pagi karena baru selesai revisi dan besok pagi harus bimbingan? Inilah kabar buruknya kawan, prokrastinasi masih saja mewarnai hari-hari kami sekalipun sudah berada di tingkat akhir :(
Jika pertanyaan ini dilontarkan saat usia saya masih remaja, tentu jawabannya akan berderet seperti list belanjaan bulanan. Semua kualifikasi dari mulai fisik, materi, filosofi, idealisme, kultur dan berbagai tuntutan tidak tahu diri lainnya. Beranjak dewasa, tepatnya setelah lulus kuliah, saya mulai agak sadar bahwa saya tidak akan mendapatkan semua hal yang saya inginkan. Bukannya saya tidak menemukan orang dengan kualifikasi idaman. Tetapi kesadaran saya tentang diri sendiri mulai terbangun. Memandang sosok idaman itu seperti halnya memandang matahari, jangankan punya keinginan untuk mengejarnya, bahkan mata saya tak sanggup menantang sorotan cahayanya. Akhirnya saya mulai merangkum dua hal dari kriteria pasangan idaman. Cukup dua hal saja saya pikir tidak akan sulit mencarinya. Pertama, penyuka seni. Kedua, humoris. Apakah ini terdengar muluk-muluk?
Identitas Buku Judul: Bulan Merah Penulis: Gin Teguh Penerbit: Qanita (Mizan Group) Tahun Terbit: 2014 Jumlah halaman: 256 Halaman Novel ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang berjuang untuk kemerdekaan lewat musik keroncong. Pertunjukan yang mereka lakukan bukanlah pertunjukan biasa karena selalu digelar tiba-tiba, pertunjukkan selalu disisipi lagu yang liriknya tak dikenal orang. Sebab sebenarnya ada lirik-lirik berisi pesan rahasia yang ingin disampaikan kepada para penerima. Pesan-pesan rahasia itu kemudian akan berbalas dengan pesan-pesan rahasia lainnya. Semua terjadi begitu cepatnya. Harus cepat, sebelum patroli kolonial Belanda datang dan membubarkan pertunjukan.
"Kamu suka kesepian gak sih?" Pertanyaan itu kerap kuajukan pada banyak orang. Karena aku ngerasa heran aja, bagaimana bisa aku merasa sering kesepian. Apakah ini sesuatu hal yang normal? Apakah aku mengalami kelainan? Lalu aku mengamati satu persatu jawaban teman-temanku. "Pernah lah, aku pernah mengalami kesepian." Kata seorang temanku. "Aku sering, apalagi saat ditinggal suami kerja." Kata temanku yang lain. Oke dari beberapa orang yang pernah kutanyai, rata-rata mereka menjawab. Iya. Lalu aku sering bertanya sendiri. Apakah matahari kesepian? Dia cuman sendiri di langit. Dikelilingi delapan planet. Ribuan asteroid, puluhan satelit. Apakah dia pernah merasa kesepian? Aku mengandaikan bahwa matahari itu kesepian, atau bosan. Lalu sekali waktu dia merasa kebosanannya memuncak dengan terjadinya badai. Mungkin itu adalah saat-saat dia sudah mengalami klimaks atas semua kesepian dan kebosanan. Tetapi pada akhirnya dia harus menyelesaikan...
Baru nyobain pakai clodi (cloth diapers/popok kain) saat anak udah 8 bulan lewat sih emang agak telat ya. Semuanya gara-gara liat tumpukan sampah popok sekali pakai (pospak) di belakang rumah. 8 bulan aja sudah sebanyak ini, apalagi full sampai toilet training yang entah kapan mau dimulainya. Sebenernya keinginan pakai clodi udah ada sejak anak baru lahir. Tapi waktu itu cuman kepikiran repot dan malas nyuci clodinya. Sayangnya saat itu nggak mengedukasi diri sendiri dengan kekurangan/kelebihan pakai clodi atau pospak. Nyeselnya sekarang... Makanya kalau dikasih amanah anak selanjutnya, insyaAllah pengen pakai clodi dari newborn. Karena ternyata pakai clodi tentunya nggak sesimpel pakai pospak tapi banyaaaak banget kelebihannya terutama untuk lingkungan dan isi dompet. Jadi, di belakang rumah neneknya suami itu ada lubang sampah. Katanya dulu zaman cucunya masih bayi, bekas pospak suka dibuangin ke sana. Nah, sekarang anaknya udah pada remaja, itu sampah nggak ...
Comments
Post a Comment