Posts

Showing posts with the label Cerita Pendek

Tetes Diorama Terakhir (Litera.co.id, 5 Juni 2017)

Image
Cerpen saya berjudul Tetes Diorama Terakhir dimuat di Litera.co.id, majalah online yang memuat berita dan tulisan sastra kontemporer. Cek tulisan selengkapnya di sini .

Ketika Hujan Turun (Suara Pemred, 29 Januari 2017)

Image
Oleh: Nufira S. Entah kapan terakhir kali Masni jatuh demikian lelap dalam tidurnya seperti kali ini. Dia bermimpi kedua anaknya dibawa pergi oleh seseorang dan menghilang di balik kabut asap. Tangan kiri Masni mendekap erat anak ketiganya yang belum genap enam bulan, mengerang di pangkuannya. Sedang tangan satunya lagi menggapai-gapai meraih bayangan dua anaknya yang terus berjalan ditelan pekatnya asap, namun yang dia dapatkan hanya kekosongan. Begitu pula saat ia terjaga, sambil mengerejapkan mata, kedua tangannya serta merta menggapai-gapai mencari ketiga anaknya yang biasa tidur di sekitarnya. Anak paling bungsu, menempel rapat di pelukannya, sedang dua anaknya yang lain tidak ada di sana. Masni tersengat. Orang pertama yang harus dicari Masni adalah suaminya sendiri. Tanpa perlu susah payah dicari, Masni melihat lelakinya itu tengah duduk menekuk kepalanya sambil memeluk lutut di seberang kamar. Masni bangkit seketika, menghambur ke arah suaminya lalu mengguncang-guncan...

GERBONG MAUT

Gerbong tiga, saat mentari sedang terik-teriknya... Kecepatan kereta berkurang dan terdengar bunyi derit roda dengan rel berarti sebuah harapan baru bagi mereka. Semua penghuni gerbong kereta itu berbondong-bondeng mendekati pintu, berharap seseorang membukanya memberi makanan, minuman atau sekadar udara segar. Seharusnya, mereka mengubur harapan itu dalam-dalam. Pintu itu tak kunjung terbuka. Tidak di sini, tidak di stasiun lain, sebelum mereka benar-benar tiba di Surabaya. "Air... Air...Air...." "Tolong buka pintunya, Tuan!" "Beri kami hawa!" Nyaris semua orang menggedor-gedor dinding gerbong. Mereka seolah terjebak di sebuah oven yang berada di atas panggangan dengan bara menyala-nyala. Tak butuh waktu lama untuk membuat kulit mereka melepuh seperti halnya gula yang lumer saat dipanaskan. Namun, sekuat apapun mereka berteriak, sekeras apapun mereka menggedor dinding, pintu tak kunjung dibuka.

SOSOK DI DALAM CERMIN (Inilah Koran, 15 Februari 2015)

Image
Rumah itu hanya dihuni oleh seorang perempuan bersama suaminya. Di rumah itu tidak ada satu pun cermin. Bukan karena tidak mampu membelinya apalagi karena pengaruh film lokal yang pernah dia saksikan, seperti ada seseorang yang memiliki kemampuan memprediksi kematian hanya dengan melihat cermin. Atau, cerita pasaran tentang sesosok bayangan yang hanya muncul di dalam cermin. Hingga ada hantu yang keluar dari cermin. Melainkan, ada satu hal yang tak akan pernah dia lupakan dan itu berhubungan dengan cermin. Yaitu pada suatu hari, saat dia beranjak dari meja riasnya, sesaat matanya melirik ke arah cermin dan melihat bayangannya tidak ikut bergerak. *** Perihal bayangannya yang beberapa saat tetap terpaku pada cermin, perempuan itu memilih tak menceritakannya pada siapapun, termasuk pada suaminya. Terlebih, suaminya yang pendiam tak banyak bertanya saat dia menyingkirkan semua cermin di rumah. Bahkan, menutupi cermin yang menempel di lemari pakaian dengan koran. Adalah sesua...

Perempuan Penjual Kesedihan

Image
Lima tahun yang lalu, kota kami dihebohkan dengan keberadaan seorang perempuan di sudut taman kota dengan memegang plang, “Dibeli, kesedihan dengan harga tinggi.” Gambar dari sini Kota kami geger. Orang-orang membicarakan perempuan itu di angkutan umum. Ada juga yang mengunggah fotonya di jejaring sosial. Berita tentang perempuan itu juga memenuhi halaman-halaman surat kabar. Tak butuh waktu lama, wajahnya muncul di televisi lalu disiarkan pada berita pagi dan petang. Berita mengenai sesuatu hal yang ganjil kerap cepat sekali merebak. Dunia memang sudah jungkir balik, hingga ada orang yang berani membeli kesedihan. Memangnya kesedihan itu semacam jagung bakar yang bebas diperjualbelikan di pinggir jalan? “Perempuan sinting!” “Ah, paling cari sensasi.” Orang-orang mulai berspekulasi. Tetapi lebih banyak lagi yang merasa penasaran dan benar-benar mengunjungi perempuan itu untuk menjual kesedihan.

MENCINTAI DALAM DIAM

Image
“Aku jatuh cinta sama kamu.” Kuangkat wajahku. Seketika menghentikan gerakan tanganku yang sejak tadi mengaduk segelas susu coklat. Ada jeda yang membuat aliran listrik di kepalaku berhenti. “Serius?” Dari jutaan kata, entahlah kenapa kata itu yang keluar. Bibirku menggumamkannya tanpa kusadari. “Ya, aku...” lelaki di hadapanku itu menghentikan kalimatnya, menghela napas panjang. “Jatuh cinta sama kamu.” Tiba-tiba aku merasa dadaku sesak. Ada yang bergerak di perutku, mungkin kupu-kupu, seperti yang dikatakan orang lain. Kularikan pandanganku pada langit-langit, jendela, karpet atau apapun, selain wajahnya. “Aku minta maaf. Aku egois.” Ujarnya. Mata kami kemudian beradu. “Aku hanya ingin mengeluarkan apapun yang ada di pikiranku. Tanpa mempertimbangkan apakah ini saat yang tepat.” Dia menyandarkan tubuhnya ke senderan kursi. “Atau apakah lawan bicaraku siap mendengarkannya atau tidak.”

Aku Ingin Kau Menjadi Orang yang Terakhir Kulihat Saat Malam Kumenutup Mata dan Orang yang Pertama Kulihat Saat Pagi Kubuka Mata (Ini judul panjang banget, bodo ah!)

Image
Kau membuka pintu rumah, menjinjing koper dan membuka mobil yang terparkir di halaman rumah kita yang tak seberapa luas. VW Combi warna merah ceri, mobil yang sesuai dengan impian kita dua belas tahun silam. Aku melihatmu dari jendela kamar, dengan gesit mengangkat koper berisi baju kita juga baju dua malaikat kecil kita ke bangku belakang. Gambar dari sini Tak berapa lama kemudian kau menyalakan mesin mobil, kembali ke dalam rumah. Aku berhenti mengamati tubuhmu yang menghilang di balik pintu, beranjak mendekati pintu dan berpapasan denganmu. Kau memegang kepalaku, mengecup keningku lima detik tanpa bicara kemudian menuju kamar anak-anak. Aku hanya tersenyum, dua belas tahun pernikahan kita, kebiasaanmu tak pernah berubah selalu mengusap kepalaku, mengecup keningku lima detik setiap kali kita berpapasan. Aku pernah memprotes kebiasaan ini, karena kau tak pernah mengenal tempat atau keadaan. “Kau kan istriku, terus aku harus sun kening siapa lagi kalau bukan kamu? Maudy ...

SELEMBAR KERTAS

Image
Sekalipun perempuan itu selalu mengaku aku adalah teman baiknya, sebenarnya dia tak terlalu ramah padaku. Sekali waktu dia menyapaku, di lain waktu dia sama sekali tak mengacuhkanku. Yah, sekalipun setiap hari kami bersinggungan. Seperti orang lain yang pernah kukenal sebelumnya. Mereka kerap melakukan sesuatu atau menghindari sesuatu hanya ketika ingin. Mereka mengistilahkannya dengan sebutan “mood”. Haa aku tak habis pikir. Bahkan untuk sekedar menyapa atau ngobrol ringan, basa-basi sekalipun, harus diatur oleh makhluk bernama “mood”. Gambar dari sini

KUTUKAN SANG JAWARA

Image
Seorang santri mencium punggung tangan Ajengan Sobur. Lama dan takzim. Kemudian dia lepas sebelum air mata dan tangisnya ruah. Santri mukim terakhir di pesantren itu meninggalkan ruang tamu Ajengan Sobur dengan seucap salam. Setelah kepergian seorang santri itu, pesantren pimpinan Ajengan Sobur kini resmi tidak memiliki santri mukim. Satu persatu meninggalkan pesantren karena mencari pekerjaan di kota, atau menuntut ilmu ke pesantren lain. Yah, keculai setiap sore dan malam hari. Masih ada anak-anak warga sekitar yang belajar mengaji di pesantren ini. Gambar dari sini

BALADA KADO ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Image
Mrs.Henry melongok halaman rumahnya lewat jendela. Salju masih turun tipis-tipis, sekalipun puncak musim dingin telah lama berlalu. Perempuan yang usianya telah melewati kepala lima itu mondar-mandir di ruang tengah. Tungku perapian masih menyala. Dan di atas meja cangkir tehnya masih mengepulkan uap. Gambar dari sini Sesekali dia memandangi jam dinding. Beberapa jam lagi suaminya akan pulang. Sedang dia belum bisa ke luar rumah. Ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Mrs. Henry ingin membelikan suaminya sesuatu yang istimewa, selain membuatkan kue.

LELAKI YANG MATI MEMINUM KOPI

Image
Di usianya yang semakin senja, lelaki itu semakin sering sesumbar. Bahwa kelak ia akan mati sambil meneguk kopi. Jika kelak ia telah diambang ajalnya, ia meminta agar disediakan segelas kopi. Itulah wasiatnya kepada orang sekitar. Gambar dari sini

KEMELUT HATI ENDAH

Image
 Kejam dan tak pernah sekalipun memberi kesempatan untuk berbahagia. Itulah yang dipahami Endah tentang kehidupan. Lima tahun terlantar di jalanan telah membuat dia kenyang dengan beragam derita. Mulai dari penghinaan, cibiran, caci maki terhadap pekerjaannya. Disaat yang sama, pekerjaan itu tak pernah memberikannya penghidupan yang layak. Dengan suara pas-pasan, alat musik seadanya, Endah mencoba menghibur penumpang di angkutan umum. Sekalipun dia memakai polesan make up tebal, dan kerudung ala hijaber, semua orang tahu bahwa dia bukan seorang perempuan tulen. Orang-orang menyebutnya banci, sekalipun dia lebih senang disebut transgender. Gambar dari sini

KUE UNTUK IDA

Image
“Harganya mahal!” bentak bocah lelaki kepada adiknya. Bocah perempuan merengut. “Ida cuman mau liat gambarnya.” “Bohong! Kamu mau kan? Kalo kita diem lama di sana, dikiranya kita mau nyuri, Da!” Sentak bocah lelaki dengan nada tinggi. “Ida gak akan nyuri!” mata bocah perempuan itu membulat. Ada amarah dalam nada bicaranya. Ida kemudian berlari meninggalkan bocah lelaki yang terpaku di pinggir jalan. Nama bocah lelaki itu Pian. Usianya belum genap sepuluh tahun. Dia mengenakan baju yang kebesaran. Noda tanah tercetak di bagian punggung bagian atas dan pinggangnya, karena dia tidur di mana saja. Gambar dari sini

PERIHAL DUA ORANG LELAKI YANG BUNUH DIRI DARI ATAS MENARA MESJID

Image
Apakah Saudara pernah mendengar desas-desus mengenai dua lelaki yang bunuh diri dari atas menara mesjid? Ah tentu saja, Saudara pasti membaca beritanya di koran beberapa hari yang lalu. Perihal dua orang lelaki yang bunuh diri dari atas menara mesjid itu pun telah menjadi gosip panas di kampung kami. Mereka memang tidak bunuh diri berbarengan. Awalnya hanya Tarmujo kemudian disusul oleh kawan dekatnya, yaitu Kadir. Mereka berdua adalah marbot di mesjid itu. Gambar dari sini

RETROUVAILLES

Image
Jika ada yang bertanya padaku kapan saat-saat terbaik dalam hidupku, aku akan menyebut kejadian ini adalah salah satunya. Jika ada yang bertanya padaku apakah arti bahagia, aku akan mengatakan bahwa bagiku bahagia adalah dapat bertemu lagi dengannya. Mungkin ini terdengar berlebihan. Tetapi aku telah menghabiskan nyaris sepanjang usiaku untuk mencintainya. Setelah kepergianku, aku berusaha untuk mencarinya. Tetapi dia juga telah pergi dari tempat kelahiran kami. Bodohnya aku, harusnya aku mengamini pepatah lama yang entah aku dapat dari mana, bahwa cara terbaik untuk menemukan sesuatu adalah dengan berhenti mencarinya.Dan taraaa... dia sudah di depan mata. Gambar dari sini

SADRAH

Image
 Sudah lewat magrib, ketika lelaki itu mengetuk pintu rumah kelarga Rukmana. Lelaki yang diramalkan ayahnya akan datang ke sini, cepat atau lambat. Lelaki yang menghilang dua puluh tahun lalu, tepat lima menit setelah dia dilahirkan. Baiknya kuceritakan terlebih dahulu kejadian dua puluh tahun silam. Kejadian yang menggemparkan keluarga Rukmana sekaligus mereka rahasiakan dari para tetangga dan orang kampung. Semenit setelah istri Hadiana, ipar dari Rukmana melahirkan sepasang bayi kembar, bidan yang membantu persalinannya tergopoh menghampiri Hadiana. Gambar dari sini “Anakmu kembar, tetapi yang laki-laki menghilang.”

MATA SEMERAH DARAH

Image
Orang bilang, ada Tuhan di titik-titik air hujan yang turun ke bumi. Aku tak pernah mempercayai kebenarannya. Kecuali kali ini aku mencoba petuah ini. Meminta sesuatu yang barangkali telah mustahil bagiku. Bukan, bukan agar leherku yang telah koyak ini kembali utuh dan aku hidup lagi. Aku hanya meminta agar anak gadisku kembali. Bukan pula agar permintaan maafku diterimanya. Aku bahkan berharap dia melupakan bahwa aku adalah ayahnya. Gambar diambil dari sini

KEPULANGAN

Image
Kosa kata “Pulang” bagi Runiah adalah serupa hujan bagi tanah kering di dusunnya yang gersang. Yang paling dia damba setelah bertahun-tahun merantau di negeri orang. Nyaris lima tahun dia bertahan menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Hujan pun menyambut kedatangan dia di dusun terakhir kabupaten Bandung itu. Dengan jasa tukang ojeg, dia memasuki jalan menuju dusun yang berbatu dan becek diguyur hujan. Tidak sabar ingin segera sampai. Gambar diambil dari sini Terbayang wajah gadis kecilnya yang mungkin sekarang telah beranjak remaja. Pun juga wajah Kang Pudin, suaminya yang harus merelakan kepergiannya demi impian kecil mereka. Sebuah rumah yang dia pesan untuk dibangun di belakan rumah Emak, agar mereka tak lagi menumpang. Betapa dadanya buncah setiap kali mengingat kehidupan lebih baik yang akan mereka jalani setelah ini. Pengorbanannya lima tahun terakhir tak berujung sia-sia.

Maharani

“Izrail yang baik, sekarang aku bisa tenang menyambutmu datang. Terima kasih karena sudah bersabar. Mari.” Lampu kereta menyorot tajam ke arahnya. Getarannya merambat pada kaki mungilnya yang menapaki rel. Deruman suaranya yang semakin keras membawa perempuan itu pada pemandangan gelap yang pekat. Inilah detik kekalahannya. **** Maharani melemparkan telepon genggamnya ke atas kasur kemudian dia menjatuhkan dirinya. Rona-rona kecantikan tergurat jelas di wajahnya. Di usianya yang sudah melampaui seperempat abad, dia tampak masih remaja. Pipinya tirus dengan rambut yang tergerai ikal membuat dia nampak semakin cantik sekalipun bulatan hitam melingkari kelopak matanya. Napasnya keluar satu-satu, sesekali tersengal membuat dadanya kembang kempis. Siapapun dapat melihat beban berat yang sedang ditanggungnya. Hasan baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk. Dia membuka lemari dan memilih kemeja. Helaan napas Maharani merambati gendang telingan...

Cinta Platonik

Image
  Foto dari sini Aku bener-bener ga ngerti dengan apa yang ada di pikirannya. Masa cuman gara-gara status di- like , twitt di- retweet atau di- favorite aja udah kesenengan begitu. Wajar sih, karena yang nge- like itu Kak Rendi, cowo paling kece seantero sekolah, apalagi dia ketua OSIS, siswa teladan pula. Wajar saja Melati terlonjak-lonjak kegirangan ketika salah satu statusnya di- like . Tapi, hey bukan cuman Melati yang postingannya di- like Kak Rendi. Bahkan karena keramahannya, dia senang membubuhkan jempol di status siapapun, aku juga pernah di- like . “Dia menyukai hampir setiap status yang aku buat lho.” Ujar Melati saat aku nyuruh dia biar ga cepet gede rasa. Toh aku tahu, status Melati belakangan ini seputar keinginannya buat masuk OSIS SMA atau memuju-muji beragam fasilitas dari sekolah swasta yang baru saja kami masuki. Aku jengah dengan sikapnya, terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa Rendi itu naksir dia. Memang sih, Melati temanku ini cantik, ...