Posts

Showing posts with the label Puisi

Seperti Apakah Kita?

Image
Seperti apakah kita? Apakah kita dua orang yang sama-sama masih menyimpan bara dalam dada. Meniupnya perlahan agar tetap menyala? Ataukah kita adalah dua orang yang terjebak di satu ruang hampa yang sama. Saling menguatkan agar tak tertelan kekosongan dan rasa kesepian masing-masing. Seperti apakah sesungguhnya kita? Apakah dua orang yang mencoba untuk menjalin pertemanan, melupakan masa-masa kelam saat kita satu sama lain pernah saling merajahkan luka paling dalam? Ataukah kita, tak lebih hanya dua orang yang tersesat di persimpangan, lalu cepat atau lambat akan berpisah dan kembali menapaki jalan yang berbeda. Katakan, menurutmu seperti apakah sesungguhnya kita? Bandung, November 2015

Pulanglah!

Image
Pulanglah! Lalu kecup kening istrimu, juga anak lelakimu yang katanya kerap mengigau menyebut-nyebut namamu, menantimu, terperanjat setiap kali mendengar derit engsel pintu. Pulanglah! Bawakan istrimu bubur kacang hijau juga segelas susu hangat untuk anak lelakimu. Atau cukup tangan yang terentang dan sebuah permintan maaf. Pulanglah! Aku akan baik-baik saja. (2014) Gambar dari sini

Kepada Sajak

gambar-gambar mengadu kepada bungkam suara-suara merajuk kepada senyap sajak diinjak-injak lalu tumbuh lagi ditinggalkan lalu hidup lagi seperti akar rumput lalu kepada apa? jika bukan kepada sajak rindu serta amarahku berpulang jika bukan kepada sajak lalu kepada apa? Bandung, 2014

Kenduri Luka

Image
I Ada yang belum selesai dirayakan. Sejak kita bersama menghitung bulir hujan. Sejak matamu bergumam mesra. Atau ujung jemarimu berbicara rindu. II Sebab semua kata lesap, sebelum mentari menguapkannya ke udara. Di ujung gang pengap, lembab seperti pertemuan kita, seperti luka yang menari-nari, pada suara paling sunyi. III Apalagi yang kau tunggu? Cangkir-cangkir telah luap, dengan air mata. Kepala telah gema dengan tangis lirih, musik paling sempurna mengiringi tarian, menyeret kaki menjejaki kenangan, paling kelam, paling gelap, paling sendu . Dan langit telah gemerlap ditaburi bening bola matamu. Tak perlu khawatir denting dua belas kali, kenduri luka , takan usai seketika. 5 Mei 2014

Perihal Perempuan dengan Lubang Menganga di Dadanya

Oleh: Nufira Stalwart Seperti perempuan lain, perempuan ini terlahir dengan sempurna. Tentang dua tangan dan kaki, lengkap dengan jemari. Tentang bibir merah mungil dengan tangis melengking. Pun tentang dua matanya, mata yang kelak akan membuat siapapun merasa jatuh cinta. Demikianlah, lubang yang kini menganga di dadanya pun tersebab cinta. Sebab semua luka bermula. Sebab segala tangis menjadi muara. Sebab dadanya hanya sebilah dada perempuan. Di bilahannya berjejalan pecahan cerita. Desah napas putus asa. Kan kau temukan juga setumpuk potret lelaki, yang pernah datang dan pergi.

Meminta Luka

Image
Di matamu, pada akhirnya kuberlabuh untuk kesekian kali tanpa jemu. Dibersamai luka, yang tiba-tiba aku lupa, beranjak kemana. Di bidang dadamu pula, bermuara segala deru dan degup cinta. Kamu, adalah awal mula semua luka yang berulang kali menganga. Di sini. Hatiku, yang berujung padamu berkali-kali meminta siksa. Desember 2013 Gambar dari sini

Sebelum Januari Tiba

Image
Sebelum Januari tiba dan semua kata-kata lesap luruh bersama air mata aku ingin mengulang yang telah lama hilang mengakrabi kata-katamu di bibir senja Sebelum Januari tiba dan hujan semakin meraja menghanyutkan semua kenangan segala ingatan biarkan aku sekedar menyapamu, memintamu untuk tak banyak terjaga saat malam karena setelah Januari sudah tidak bisa lagi mungkin kau tak lagi sudi bahkan untuk sekedar berucap : Tabik! atau Selamat pagi! Bandung, November 2013 Gambar dari sini

Begini Cara Mencintai

Image
Saling memberi. Ucap mentari. Saling menjaga. Teriak langit. Saling berkorban. Sanggah bumi. Saling menyejukan. Bisik hujan. Saling mengerti. Ujar udara. Saling percaya. Tambah pelangi. Saling memilih. Jawab sungai Saling mendoakan. Kata aku. [Juni 2013]

Ritus Pagi

:Lelaki yang mengirimiku puisi setiap pagi sebait puisi yang kau kirimkan pagi ini :juga pagi-pagi sebelumnya melesapkan segala duka dan luka memadamkan aneka resah dan gelisah sebait puisi yang kau kirimkan pagi ini :juga pagi-pagi sebelumnya membuat dadaku buncah seketika senyumku merekah maka bagiku, hai Lelaki mencintaimu serupa mencintai pagi [Juli 2013]

Berpisah

Ada yang terkelupas Dari dinding ingatan Kata yang merangkum Aku dan kamu menjadi kita Hingga putih yang terekam Kian tak terkatakan Mencipta garis antara kita Menjadi aku dan kamu Kemudian entah 2013

Cinta Sejati

Image
: Ridwan, Mu'min, Mila, Wida, Lutfi Barangkali ketika kita tahu ada seseorang yang senantiasa menyelipkan nama kita dalam doa-doanya. Tak akan lagi ada ujaran "Aku tak punya siapa-siapa" dari mulut kita. Barangkali ketika kita tahu ada seseorang yang berusaha, bekerja keras untuk kita, memeras keringat siang dan malam, seakan kata "lelah" itu telah terhapus dari kamus kehidupannya. Tak akan lagi meluncur kalimat "Tak ada yang peduli padaku" dari bibir kita. Sekalipun dia masih berujar "Maaf, bapak belum bisa membahagiakanmu. Maaf bapak belum bisa memenuhi semua keinginanmu." bahkan setelah ia menggadaikan kehidupannya untuk membahagiakanmu, untuk memenuhi keinginanmu. Bukankah cinta adalah perbuatan? Maka berhentilah mengharapkan cinta-cinta lain yang semu berbalut tipu, berhentilah memuja cinta-cinta lain yang hanya ucapan tanpa pembuktian. Berhentilah menggombali anak gadis orang! Cinta sejatimu adalah mereka, kedua ora...

Yang Terbaik Bagimu* (Puisi untuk Ayah)

Image
wahai waktu, tolong bawakan aku pada masa ketika aku belum mengingat apapun, namun akan kutemukan dia mendekatkan wajahnya di telingaku dan merapalkan bait-bait doa untukku. wahai waktu, tolong bawakan aku pada masa kecilku ketika aku masih bisa mendapati wajahnya di depan tungku kemudian memasakan kami sarapan ketika mama sedang tidak enak badan. Jujur saja, masakannya lebih enak dari masakan mama, pernah sekali waktu aku ungkapkan ini pada mama dan mama mengiyakan. wahai waktu, tolong bawa aku pada masa kanakku ketika aku lupa dengan sebuah surat di ujung juz amma, atau ketika aku hanya berhasil menghafal sebuah ayat ketika orang lain mampu membacanya bahkan sambil berlalri, dia hanya berujar bahwa kelak aku mampu menghafalnya. wahai waktu, tolong bawa aku pada masa remajaku ketika aku marah dan membanting pintu ketika ia memintaku melakukan sesuatu, lantas aku menangis di balik pintu kamarku dan meneteskan air mata dengan segenap perasaan benci, kenapa harus aku?

Pertemuan yang Terlewat

Image
:permintaan maaf untuk seorang sahabat ada pengakuan yang terselip di krenyit rona senja yang kerlip matamu yang berlian terpantul di punggung jalan tempat kita merekatkan jari-jari tangan tapi hanya sekedar pengakuan tanpa tinta yang tergores tanpa jejak yang menapak tanpa senyum yang tersemat di sebuah angka yang kubulati diantara beberapa angka lain di pengingat ada pertemuan yang terlewat di lingkar-lingkar janji yang membuatmu kecewa aku sungguh tahu ingin ku berlari menapaki hari-hari yang telah pergi hanya untuk menatap senyummu yang demikian pekat menekuri sentuhanmu yang hangat pada jari-jari tanganku dan semoga masih terucap "kita sahabat" 9/7/2012 "Warung Kopi 24 jam"

Seribu Matahari di Matanya

Image
Kubilang ingin melihat dunia kau tertawa lantas kau hadiahiku, matahari di kelopak mataku benderang namun tak buatku terbakar Aku tak pernah bertanya darimana kau mendapatkannya lengkap dengan lembut sinarnya di kala fajar teriknya tak tertahankan serta rona merah ketika kelelahan Aku tak pernah bertanya darimana kau mendapatkannya "Kupetik dari sebuah tempat, tempat paling indah di dunia" Ujarmu

Ibu, Ibu, Ibu, Ayah

Maafkan kesalahan mereka, seperti ibu dan ayah memaafkan kenakalanmu waktu kecil. Doakan selalu mereka, seperti ibu dan ayah yang tak pernah alfa menyebut namamu dalam sujud panjang tahajudnya. Dengarlah nasihat mereka, seperti ibu dan ayah yang mendengarkan keluh kesah juga keinginanmu. Hormati mereka berdua, seperti mereka yang senantiasa mementingkan urusanmu. Demikian Nabi perintahkan. Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ayahmu. Karena merekalah menjadi sebab syurgamu atau nerakamu. Nursaadah Fitriani (Maret 2012) *Puisi ini diterbitkan di Majalah Elfata edisi 04 Volume 12

Kota, Hati

jika hatimu berbentuk kota seperti apakah ia sekarang? hijau dengan penataan taman yang menawan rimbun dengan pepohonan segar ramai dengan bebungaan yang mekar atau gersang dibalut polutan bising dengan berbagai kendaraan hiruk pikuk ditampar banjir juga badai ah, masihikah aku bisa melongoknya? menghabiskan segelas hot chocolate di salah satu bangku di pinggir jalannya. atau rasa enggan, bergegas meluruhkannya. 2012

my dreams, your dreams and our dreams

:Zakia bersama atau berpisah hidup akan terus berlanjut mimpi akan tetap terwujud aku simpan rapi sketsa wajahmu ketika impian bergumul di atas kepalamu begitu pun ketika kau berujar " My dreams was died " kutangkap bening di pipimu juga sesak tercekat di tenggorokanmu sekali ini aku tidak akan lagi mengatakan ini mimpiku itu mimpimu tapi inilah mimpi kita and let's make our dreams come true! Sembari menyapa mentari, 12 April 2012

Tak Pernah Ada “Selamat Tinggal”

: Abusaldi Ini kali ketiga, aku mengunjungi rumahmu Sayang, yang kutemukan hanya wajah-wajah suram tak kukenal Tak ada wajahmu di sudut manapun ruangan ini Dan tak akan pernah kutemukan, barangkali Kini jasadmu terbaring disana Di tanah lapang, diteduhi  beringin tua Tapi, tak pernah ada kuburan kenangan bukan? Namamu tak tertulis di nisan ingatan Karena aku masih saja terus menghidupkannya Meski kini, bertemu menjadi kosakata yang lusuh Bahkan tereliminasi dari lembaran kita Sedang jika aku ingin sedikit berbincang Yang ada hanya sepi Membuat genangan danau di kelopak mataku Dapat meluap kapan saja Membanjiri hati yang kebas Ditimbuni berbarel-barel rindu Yang kian meretas, menganak sungai Tak bermuara Sudut Kamar, 11 April 2012