Kau tahu bukan apa cita-citaku? Apa impian terbesarku? Yah kau pasti tahu, karena kita telah berbincang tentang itu sejak lama. Benar, karena impian kita ternyata sama. Kita sama-sama ingin menjadi penulis. Penulis sukses yang karyanya berjejeran di etalase juga rak-rak toko buku, menghadiri berbagai undangan kepenulisan untuk membedah buku atau sekedar berbagi mengenai proses kreatif dalam menulis, menginspirasi banyak orang untuk berubah menjadi lebih baik, menghasilkan karya yang menghibur dan menemani para kutu buku yang bertebaran di perpustakaan dengan kacamata tebal. “Menulis itu ada tiga kuncinya, satu menulis, dua menulis, tiga menulis.” Ujarmu dengan senyum mengembang di ujung diskusi kepenulisan yang sering kita hadiri di pelataran Mesjid kampus ketika sore menjelang. Aku jelas lebih hafal dengan kalimat itu, bukankah kita selalu membahasnya di pertengahan malam hingga pagi menjelang dan kita meringkuk di bawah selimut yang sama. Karena sekali lagi kita ini s...
Comments
Post a Comment