Posts

gumaman mahasiswa tingkat akhir #4 (Arabiyyah vs Francais)

Image
Semester lalu, ketika saya masih sekamar kosan bersama anak Arab juga rasanya ga heran liat dia bikin skripsi dengan bahasa Arab, pake kamus Al-Munawwir atau Maktabah Syamilah. Karena kami memang satu jurusan, hanya saja dia ditakdirkan lulus lebih dulu kemudian nikah lebih dulu. :P Akhirnya saya punya rumit (pelesetan roommate :D) baru, bukan satu jurusan tapi masih anak bahasa sefakultas (FPBS). Bedanya dia jurusan bahasa Perancis dan satu angkatan di atas saya. Maka beginilah jadinya kalo lagi sama2 "nyekripsi"

gumaman mahasiswa tingkat akhir #3 (Membaca dan membaca)

Image
  Dimulai dari BAB I yang (dosen pembimbimbing saya yang merupakan seorang Profesor, berulang kali bilang) harus mencakup dua hal yaitu teori dan empiris. Teori didapat dari buku-buku kemudian bandingkan dengan kondisi di lapangan (empiris). Adakah hal yang tidak singkron dari dua hal tersebut? Jika ada hal yang tidak singkron berarti ada sesuatu yang salah. Apakah itu? Jelas tidak akan jauh dari unsur-unsur dalam pembelajaran baik itu gurunya, metodenya, bahan ajarnya dan sebagainya. Nah dari sinilah skripsi itu dimulai, dari ditemukannya sebuah masalah.

gumaman mahasiswa tingkat akhir #2 (Prokrastinasi)

Image
Adalah mengisi tinta printer, hal yang sebenarnya sederhana saja, tinggal keluarkan katrid dari printer kemudian suntikan refill tinta sesuai dengan petunjuk pemakaian di belakang kemasan refill tinta tersebut.  Masalah tinta yang luber hingga mengotori tangan (seperti terlihat di gambar) selama beberapa hari bisa jadi ini sudah menjadi makanan sehari2.  Tetapi apa jadinya jika mengisi tinta itu dilakukan tengah malam menjelang pagi karena baru selesai revisi dan besok pagi harus bimbingan?  Inilah kabar buruknya kawan, prokrastinasi masih saja mewarnai hari-hari kami sekalipun sudah berada di tingkat akhir :(

Aku Biru Lalu Kelabu

Image
Oleh: Nufira Stalwart Ketika mentari belumlah tenggelam di ujung lautan sana. Aku tahu kau akan duduk memeluk lutut atau berdiri dengan kepala tengadah dan tangan terentang. Tubuhmu oranye menyilaukan mataku karena bermandikan cahaya senja. Tak alfa hari ini kau pun ada di sana, begitu juga aku. Bedanya, jika kau memandang bola api yang merona di ufuk barat itu, aku disini tertegun setidaknya beberapa menit sampai gelap mulai merangkak, memandangimu. Bulan kini semakin jelas dan kita sama-sama bubar dari tempat itu, tanpa kau tahu dan tak perlu tahu keberadaanku. Sampai suatu hari entah dari mana keberanian itu mencuat tak tertahankan. Aku melangkahkan kaki ke arah kau biasa melakukan ritual senjamu, terkadang kuhentikan, ragu menjalari setiap inci langkahku. Tapi terus kulanjutkan, hingga aku merasa dentuman di dadaku kian memekakan. Puncaknya ketika aku ikut duduk di sampingmu. Tanpa sepatah kata sekalipun "Hai". Kita sama-sama tahu, tidak ingin saling menggan...

gumaman mahasiswa tingkat akhir #1 (Kuliah dan Skripsi)

Image
Allah bersama mahasiswa tingkat akhir!  Terus kalo sama mahasiswa tingkat awal enggak?  Bukan seperti itu maksudnya kawan! Tapi...saya juga tidak mengerti maksud kalimat ini apa dan dari mana awal mula munculnya :D Yang pasti ada seorang teman saya yang pernah bilang ke saya suatu hari ketika saya masih SMA, dia bilang dia ga mau kuliah karena takut menghadapi skripsi ketika tingkat akhir.  Nah, seusia itu saja sudah bisa membayangkan betapa...skripsi ini...betapa "sesuatu banget".  Dan dengan entengnya saat itu saya bilang kurang lebih seperti ini "Segala sesuatu itu ada masanya, mungkin saat ini kita belum terbersit sedikitpun tentang bagaimana menyelesaikan skripsi atau TA, tapi kelak kita pasti tau ilmunya dan pengetahuan kita sudah memenuhi kapasitas untuk menulis skripsi itu melalui proses belajar bagaimana menyusunnya." (sebenarnya itu kalimat saya hari ini, tapi esensinya  kurang lebih seperti itu).  Nah akhirnya hal itu membawa saya...

DUKA SEBENTUK LENGKUNG SENYUM

Image
Hari ini akan kutuntaskan janjiku. Ini juga akan menggenapkan usahaku untuk membahagiakanmu semampuku. Inilah yang akhirnya hanya bisa aku lakukan. Aku hanya bisa ikut berbahagia melihat kau bahagia, Tantri. Mentari nampak begitu terik pagi ini, menyentuh lembut dedaunan. Kilatan cahaya yang terpantul dari bulir-bulir embun di permukaan daun membuat cerah sekeliling. Sebelum akhirnya menguap ke udara bergumul dengan sejuk angin. Hari ini genap satu tahun aku kembali ke kampung, setahun terakhir aku habiskan di kota untuk menyelesaikan tugas akhir serta skripsi ku. Akhirnya hari ini datang juga, dulu aku mengira ini akan menjadi mimpi buruk bagiku, tapi ternyata hanya masalah waktu aku bisa menerima semua ini dengan hati yang lapang. Jam menunjukan pukul sepuluh, bergegas aku panaskan motorku sebelum kemudian meluncur menyusuri gang-gang yang dikelilingi pesawahan juga beberapa pemukiman penduduk sebelum akhirnya melewati jalan utama beraspal. Hari ini jelas spesial, ji...

MIMPI PENULIS

Image
Kau tahu bukan apa cita-citaku? Apa impian terbesarku? Yah kau pasti tahu, karena kita telah berbincang tentang itu sejak lama. Benar, karena impian kita ternyata sama. Kita sama-sama ingin menjadi penulis. Penulis sukses yang karyanya berjejeran di etalase juga rak-rak toko buku, menghadiri berbagai undangan kepenulisan untuk membedah buku atau sekedar berbagi mengenai proses kreatif dalam menulis, menginspirasi banyak orang untuk berubah menjadi lebih baik, menghasilkan karya yang menghibur dan menemani para kutu buku yang bertebaran di perpustakaan dengan kacamata tebal. “Menulis itu ada tiga kuncinya, satu menulis, dua menulis, tiga menulis.” Ujarmu dengan senyum mengembang di ujung diskusi kepenulisan yang sering kita hadiri di pelataran Mesjid kampus ketika sore menjelang. Aku jelas lebih hafal dengan kalimat itu, bukankah kita selalu membahasnya di pertengahan malam hingga pagi menjelang dan kita meringkuk di bawah selimut yang sama. Karena sekali lagi kita ini s...

Ibu, Ibu, Ibu, Ayah

Maafkan kesalahan mereka, seperti ibu dan ayah memaafkan kenakalanmu waktu kecil. Doakan selalu mereka, seperti ibu dan ayah yang tak pernah alfa menyebut namamu dalam sujud panjang tahajudnya. Dengarlah nasihat mereka, seperti ibu dan ayah yang mendengarkan keluh kesah juga keinginanmu. Hormati mereka berdua, seperti mereka yang senantiasa mementingkan urusanmu. Demikian Nabi perintahkan. Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ayahmu. Karena merekalah menjadi sebab syurgamu atau nerakamu. Nursaadah Fitriani (Maret 2012) *Puisi ini diterbitkan di Majalah Elfata edisi 04 Volume 12

Kota, Hati

jika hatimu berbentuk kota seperti apakah ia sekarang? hijau dengan penataan taman yang menawan rimbun dengan pepohonan segar ramai dengan bebungaan yang mekar atau gersang dibalut polutan bising dengan berbagai kendaraan hiruk pikuk ditampar banjir juga badai ah, masihikah aku bisa melongoknya? menghabiskan segelas hot chocolate di salah satu bangku di pinggir jalannya. atau rasa enggan, bergegas meluruhkannya. 2012

my dreams, your dreams and our dreams

:Zakia bersama atau berpisah hidup akan terus berlanjut mimpi akan tetap terwujud aku simpan rapi sketsa wajahmu ketika impian bergumul di atas kepalamu begitu pun ketika kau berujar " My dreams was died " kutangkap bening di pipimu juga sesak tercekat di tenggorokanmu sekali ini aku tidak akan lagi mengatakan ini mimpiku itu mimpimu tapi inilah mimpi kita and let's make our dreams come true! Sembari menyapa mentari, 12 April 2012

Tak Pernah Ada “Selamat Tinggal”

: Abusaldi Ini kali ketiga, aku mengunjungi rumahmu Sayang, yang kutemukan hanya wajah-wajah suram tak kukenal Tak ada wajahmu di sudut manapun ruangan ini Dan tak akan pernah kutemukan, barangkali Kini jasadmu terbaring disana Di tanah lapang, diteduhi  beringin tua Tapi, tak pernah ada kuburan kenangan bukan? Namamu tak tertulis di nisan ingatan Karena aku masih saja terus menghidupkannya Meski kini, bertemu menjadi kosakata yang lusuh Bahkan tereliminasi dari lembaran kita Sedang jika aku ingin sedikit berbincang Yang ada hanya sepi Membuat genangan danau di kelopak mataku Dapat meluap kapan saja Membanjiri hati yang kebas Ditimbuni berbarel-barel rindu Yang kian meretas, menganak sungai Tak bermuara Sudut Kamar, 11 April 2012

~Solitude

Mentari belum sempurna benar memanggang taman itu, gedung lantai lima di hadapannya masih menghadang sinar mentari, membuat lembab sekeliling. Sejuk tepatnya. Sedang perlahan di belakang sana mentari merambat naik, menarik bayangan itu seinci demi seinci membuatnya semakin pendek, semakin mendekati kaki gedung. Dia masih duduk disana, diantara empat meja dan bangku terbuat dari semen yang atasnya dilindungi kanopi. Air tergenang di meja dan bangku lain juga sedikit di meja yang ditempatinya, tapi tak lama juga mentari akan menguapkan genangan air itu. Begitu juga kelopak matanya ada danau kecil di bola mata coklatnya, tapi entahlah apa mentari mampu menguapkannya juga. Bola mata itu menatap nanar dedaunan yang basah bekas hujan semalam, menyilaukan ketika diterpa mentari yang cepat merangkak naik. Kedua tangannya tertumpu di atas meja, jemarinya dianyam. Kulitnya yang putih tampak pucat. "Kau boleh melakukan apapun selama kau merasa itu lebih baik. Tapi tolong, jan...