Posts

Seperti Dendam, Mendaki Gunung Pun Harus Dituntaskan (Bagian 1)

Image
Foto: Dokumentasi pribadi “Mau apa naik gunung?” Orangtuaku selalu bertanya demikian setiap kali aku meminta izin untuk naik gunung. Dulu, setahun yang lalu mungkin, aku memberikan jawaban begini, "Pengen belajar dari alam." Dan orang tuaku menjawab "Emang gak bisa belajar selain dari alam?" Aku pun diam. Beberapa waktu lalu, saat hendak naik gunung, aku meminta izin orangtua. Aku kembali dihadapkan pada pertanyaan, untuk apa naik gunung? Lalu kujawab "Pengen liat edelweiss." Kali ini giliran orangtuaku yang diam. Mengiyakan. Sekalipun entah bakal liat edelweiss atau enggak, masalahnya, edelweiss cuman bisa tumbuh di puncak gunung, itupun dengan ketinggian tertentu, dengan kondisi tanah tertentu dan PH tertentu. Yes! Terkadang orangtua butuh jawaban realistis, bukan jawaban filosofis.

Perihal Perempuan dengan Lubang Menganga di Dadanya

Oleh: Nufira Stalwart Seperti perempuan lain, perempuan ini terlahir dengan sempurna. Tentang dua tangan dan kaki, lengkap dengan jemari. Tentang bibir merah mungil dengan tangis melengking. Pun tentang dua matanya, mata yang kelak akan membuat siapapun merasa jatuh cinta. Demikianlah, lubang yang kini menganga di dadanya pun tersebab cinta. Sebab semua luka bermula. Sebab segala tangis menjadi muara. Sebab dadanya hanya sebilah dada perempuan. Di bilahannya berjejalan pecahan cerita. Desah napas putus asa. Kan kau temukan juga setumpuk potret lelaki, yang pernah datang dan pergi.

Hanya Isyarat [Rectoverso]

Image
Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang, lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam. Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya haru...

Catatan (terlambat) 24 Tahun

Image
Saya katakan terlambat karena saya berulang tahun bulan lalu, tepatnya tanggal 23 April. Hal yang saya pikirkan pertama kali saat terjaga di pagi hari, tanggal 23 itu bukanlah berharap mendapat ucapan selamat pukul 12 malam, kejutan, tiup lilin atau kado.  Pertama, karena memang saya dibesarkan dengan pemahaman "tidak ada perayaan ulang tahun". Saya teringat waktu kecil pernah bertanya kenapa saat saya ulang tahun, tidak ada kue, tumpeng atau kado seperti teman-teman saya yang lain. Orang tua saya hanya menjawab "Ulang tahun yang sesungguhnya bukanlah tiup lilin atau makan tumpeng, tetapi kamu bertambah usia disertai dengan bertambah dewasa, tidak meninggalkan salat, dan makin rajin belajar." Kira-kira begitulah, saya tidak terlalu ingat redaksi yang diucapkan ayah saya. Yang pasti saya merasa cukup dengan jawaban tersebut. Kedua, yang saya pikirkan saat terbangun di pagi itu adalah saya merasa benar-benar takut mati. Foto : Dokumentasi pribadi Bangun ...

Saya Gagal Tetapi Tak Mau Menyerah

Image
Gambar dari sini Bulan kemarin sempet bikin program pribadi yang saya beri judul #MenantangDiri #30HariMenulis sebuah program selama 30 hari menulis cerita pendek di blog. Unfortunately , saya tidak menyelesaikannya. Saya hanya menulis sebelas cerita pendek. Ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa saya tidak menyelesaikannya dan berhenti di hari ke sebelas. Diantaranya: 1. Males 2. Males banget 3. Males kabina-bina 4. Males pisan 5. Malesna amit-amit 6. Males semales-malesna 7. Males pokonya

SELEMBAR KERTAS

Image
Sekalipun perempuan itu selalu mengaku aku adalah teman baiknya, sebenarnya dia tak terlalu ramah padaku. Sekali waktu dia menyapaku, di lain waktu dia sama sekali tak mengacuhkanku. Yah, sekalipun setiap hari kami bersinggungan. Seperti orang lain yang pernah kukenal sebelumnya. Mereka kerap melakukan sesuatu atau menghindari sesuatu hanya ketika ingin. Mereka mengistilahkannya dengan sebutan “mood”. Haa aku tak habis pikir. Bahkan untuk sekedar menyapa atau ngobrol ringan, basa-basi sekalipun, harus diatur oleh makhluk bernama “mood”. Gambar dari sini

KUTUKAN SANG JAWARA

Image
Seorang santri mencium punggung tangan Ajengan Sobur. Lama dan takzim. Kemudian dia lepas sebelum air mata dan tangisnya ruah. Santri mukim terakhir di pesantren itu meninggalkan ruang tamu Ajengan Sobur dengan seucap salam. Setelah kepergian seorang santri itu, pesantren pimpinan Ajengan Sobur kini resmi tidak memiliki santri mukim. Satu persatu meninggalkan pesantren karena mencari pekerjaan di kota, atau menuntut ilmu ke pesantren lain. Yah, keculai setiap sore dan malam hari. Masih ada anak-anak warga sekitar yang belajar mengaji di pesantren ini. Gambar dari sini

BALADA KADO ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Image
Mrs.Henry melongok halaman rumahnya lewat jendela. Salju masih turun tipis-tipis, sekalipun puncak musim dingin telah lama berlalu. Perempuan yang usianya telah melewati kepala lima itu mondar-mandir di ruang tengah. Tungku perapian masih menyala. Dan di atas meja cangkir tehnya masih mengepulkan uap. Gambar dari sini Sesekali dia memandangi jam dinding. Beberapa jam lagi suaminya akan pulang. Sedang dia belum bisa ke luar rumah. Ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Mrs. Henry ingin membelikan suaminya sesuatu yang istimewa, selain membuatkan kue.

LELAKI YANG MATI MEMINUM KOPI

Image
Di usianya yang semakin senja, lelaki itu semakin sering sesumbar. Bahwa kelak ia akan mati sambil meneguk kopi. Jika kelak ia telah diambang ajalnya, ia meminta agar disediakan segelas kopi. Itulah wasiatnya kepada orang sekitar. Gambar dari sini

KEMELUT HATI ENDAH

Image
 Kejam dan tak pernah sekalipun memberi kesempatan untuk berbahagia. Itulah yang dipahami Endah tentang kehidupan. Lima tahun terlantar di jalanan telah membuat dia kenyang dengan beragam derita. Mulai dari penghinaan, cibiran, caci maki terhadap pekerjaannya. Disaat yang sama, pekerjaan itu tak pernah memberikannya penghidupan yang layak. Dengan suara pas-pasan, alat musik seadanya, Endah mencoba menghibur penumpang di angkutan umum. Sekalipun dia memakai polesan make up tebal, dan kerudung ala hijaber, semua orang tahu bahwa dia bukan seorang perempuan tulen. Orang-orang menyebutnya banci, sekalipun dia lebih senang disebut transgender. Gambar dari sini

KUE UNTUK IDA

Image
“Harganya mahal!” bentak bocah lelaki kepada adiknya. Bocah perempuan merengut. “Ida cuman mau liat gambarnya.” “Bohong! Kamu mau kan? Kalo kita diem lama di sana, dikiranya kita mau nyuri, Da!” Sentak bocah lelaki dengan nada tinggi. “Ida gak akan nyuri!” mata bocah perempuan itu membulat. Ada amarah dalam nada bicaranya. Ida kemudian berlari meninggalkan bocah lelaki yang terpaku di pinggir jalan. Nama bocah lelaki itu Pian. Usianya belum genap sepuluh tahun. Dia mengenakan baju yang kebesaran. Noda tanah tercetak di bagian punggung bagian atas dan pinggangnya, karena dia tidur di mana saja. Gambar dari sini

PERIHAL DUA ORANG LELAKI YANG BUNUH DIRI DARI ATAS MENARA MESJID

Image
Apakah Saudara pernah mendengar desas-desus mengenai dua lelaki yang bunuh diri dari atas menara mesjid? Ah tentu saja, Saudara pasti membaca beritanya di koran beberapa hari yang lalu. Perihal dua orang lelaki yang bunuh diri dari atas menara mesjid itu pun telah menjadi gosip panas di kampung kami. Mereka memang tidak bunuh diri berbarengan. Awalnya hanya Tarmujo kemudian disusul oleh kawan dekatnya, yaitu Kadir. Mereka berdua adalah marbot di mesjid itu. Gambar dari sini